Make your own free website on Tripod.com

 Gairah Asmara  - Kumpulan kisah-kisah erotis khusus dewasa -    gairah asmara

Warning

Situs ini merupakan situs yang berisikan kumpulan cerita khusus DEWASA, hanya anda yang berusia minimal 18 tahun yang boleh mengunjunginya. Kami tidak bertanggung jawab jika terjadi "efek samping" kepada para pembaca

 

Link Favorit

- Kamasutra
- Gadis seksi
- Goyang erotis
- Foto hot artis
- Cewek bugi
l

 

.

 

Gairah Asmara Web mrpk situs khusus dewasa yg berisi koleksi cerita seks, kisah erotis, kencan kilat, pengalaman seks, keperawanan, keperjakaan, cerita anak smu, cerita saru, asmaragama, kamasutra, tips seks, seni bercinta, kisah tante, tante girang, kisah gigolo, telanjang, bugil, foto seksi, gadis, gadis seksi, cewek bugil, artis bugil, abg telanjang, abg bispak, ciblek, anak smu, model foto, artis erotis, wanita cantik, ayam kampus, wts, cewek panggilan,  gigolo, kencan seks,  pesta seks, maniak seks, vcd bf, film biru, blue film, model telanjang, playboy indonesia, brondong, cerita waria, senggama, 17 tahun, pembantu genit seksi, erotisme, perkosaan, gadis perawan, virgin, payudara, toket, memek, paha, buah dada, payudara, puting susu, cerita panas, blogkep, vagina, penis, klitoris, bugil, ML, indonesia, abg, erotis, seks, cantik, orgasme. Khusus di peruntukkan untuk anda yg berumur 18th keatas atau yg sudah menikah.

cewek seksi erotis

Judul : Desahan dalam mobil 
Oleh : Tak Tahulah
Email : entah@siapajuga.co.id
Foto : by Model ( Karen Inchinose)
Keterangan : Model atau foto tidak ada hubungannya dengan cerita yang ada. Hanya ilustrasi atau gambar pemanis belaka. Jika anda punya kisah seks erotis, kisah ml atau khayalan erotis yg ingin anda ceritakan silahkan kirim ke
cerita_seks_erotis@yahoogroups.com 

Daftar isi Gairah Asmara, Klik Disini !!


Nama saya Citra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 
5 di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta 
Pusat , dan apa yang akan saya ceritakan disini adalah kisah 
yang terjadi sekitar beberapa tahun yang lalu.

Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika 
semester lima, bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata 
kuliah, dua yang pertama mulai jam 9 sampai jam tiga dan yang 
terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, belum lagi kalau 
ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan 
tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan 
teman sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa 
enam orang dan Pak Didi, sang dosen.

"Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra ?" ajak Dimas "Jauh 
nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi"

Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan 
kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak 
jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia 
ingin memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke 
tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah teman 
seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. 
Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan 
selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal 
sebagai buaya kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat 
parkir itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote 
mobilku. Akupun membuka pintu mobil dan berpamitan padanya. 
Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh Dimas 
yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku.

"Eeii... mau ngapain kamu ?" tanyaku sambil meronta karena 
Dimas mencoba mendekapku.

"Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan 
badan nih, saya kangen sama vagina kamu nih" katanya sambil 
menangkap tanganku.

"Ihh... nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di 
tempat parkir gila !" tolakku sambil berusaha lepas.

Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu 
mobil dan tangan satunya berhasil meraih payudaraku lalu 
meremasnya. "Dimas... jangan... nggak mmhhh!" dipotongnya 
kata-kataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Dimas menyingkap 
kaos hitam ketatku yang tak berlengan dan tangannya mulai 
menelusup ke balik BH- ku. Nafsuku terpancing, 
berangsur-angsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya dengan 
menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka 
mulut sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu 
telak rongga mulutku, mau tidak mau lidahku juga ikut bermain 
dengan lidahnya. Nafasku makin memburu ketika dia menurunkan 
cup BH ku dan mulai memilin-milin putingku yang kemerahan. 

Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. Kini 
aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada 
lehernya dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kira-kira 
setelah lima menitan kami ber-French kiss, dia melepaskan 
mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi membuat posisi 
tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan 
berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia 
membuka kakiku, langsung terlihat olehnya pahaku yang putih 
mulus dan celana dalam pink-ku.

"Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi 
nih" katanya sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai 
mengelusnya.

Ketika elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu 
dari luar celana dalamku sehingga aku merintih dan menggeliat. 
Reaksiku membuat Dimas makin bernafsu, jari-jarinya mulai 
menyusup ke pinggiran celana dalamku dan bergerak seperti ular 
di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil mendesah 
nikmat saat jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan 
pelan pada pahaku, aku membuka mata dan melihatnya menundukkan 
badan menciumi pahaku. Jilatan itu terus merambat dan semakin 
jelas tujuannya, pangkal pahaku. Dia makin mendekatkan 
wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi sedikit rokku.

Dan... oohh... rasanya seperti tersengat waktu lidahnya 
menyentuh bibir vaginaku, tangan kanannya menahan celana 
dalamku yang disibakkan ke samping sementara tangan kirinya 
menjelajahi payudaraku yang telah terbuka.

Aku telah lepas kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah 
dan menggeliat, lupa bahwa ini tempat yang kurang tepat, 
goyangan mobil ini pasti terlihat oleh orang di luar sana. 
Namun nafsu membuat kami terlambat menyadari semuanya. Di 
tengah gelombang birahi ini, tiba- tiba kami dikejutkan oleh 
sorotan senter beserta gedoran pada jendela di belakangku. 
Bukan main terkejutnya aku ketika menengok ke belakang dan 
melihat dua orang satpam sampai kepalaku kejeduk jendela, 
begitu juga Dimas, dia langsung tersentak bangun dari 
selangkanganku. Satu dari mereka menggedor lagi dan menyuruh 
kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi sepertinya 
sudah tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan 
memanggil yang lain akan semakin terbongkar skandal ini, maka 
kamipun memilih turun membicarakan masalah ini baik-baik 
dengan mereka setelah buru-buru kurapikan kembali pakaianku.

Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal kampus 
dan harus dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal 
itu terjadi sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di 
antara kami. Kemudian yang agak gemuk dan berkumis membisikkan 
sesuatu pada temannya, entah apa yang dibisikkan lalu keduanya 
mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang tinggi dan 
berumur 40-an itu lalu berkata,

"Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam sebentar cewek kamu 
buat biaya tutup mulut ?"

Huh, dasar pikirku semua laki-laki sama saja pikirannya tak 
jauh dari selangkangan. Rupanya dalam hal ini Dimas cukup 
gentleman juga, walaupun dia bukan pacarku, tapi dia tetap 
membelaku dengan menawarkan sejumlah uang dan berbicara agak 
keras pada mereka. Di tengah situasi yang mulai memanas itu 
akupun maju memegangi tangan Dimas yang sudah terkepal 
kencang.

"Sudahlah Mas, nggak usah buang-buang duit sama tenaga, biar 
saya saja yang beresin" kataku

"Ok, bapak-bapak saya turuti kemauan kalian tapi sesudahnya 
jangan coba ungkit-ungkit lagi masalah ini !"

Walaupun Dimas keberatan dengan keputusanku, namun dia mau 
tidak mau menyerah juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga 
menginginkannya untuk menuntaskan libidoku yang tanggung tadi, 
lagipula bermain dengan orang-orang seperti mereka bukan 
pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring mereka 
ke gedung psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung 
koridor kami disuruh masuk ke suatu ruangan yang adalah toilet 
pria. Salah seorang menekan sakelar hingga lampu menyala, 
cukup bersih juga dibanding toilet pria di fakultas lainnya 
pikirku.

"Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, perhatiin baik-baik 
kita ngerjain cewek kamu !" perintah yang tinggi itu pada 
Dimas.

Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku 
menatapi tubuhku dalam pakaian ketat itu. Sorot mata mereka 
membuatku nervous dan jantungku berdetak lebih cepat, kakiku 
serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga aku menyandarkan 
punggungku ke tembok.

Kini aku dapat melihat nama-nama mereka yang tertera di atas 
kantong dadanya. Yang tinggi dan berusia sekitar pertengahan 
40 itu namanya Egy, dan temannya yang berkumis itu bernama 
Romli. Pak Egy mengelusi pipiku sambil menyeringai mesum.

"Hehehe... cantik, mulus... wah beruntung banget kita malam 
ini !" katanya

"Kenalan dulu dong non, namanya siapa sih ?" tanya Pak Romli 
sambil menyalami tanganku dan membelainya dari telapak hingga 
pangkalnya, otomatis bulu-buluku merinding dan darahku 
berdesir dielus seperti itu.

"Citra" jawabku dengan agak bergetar.

"Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya 
juga indah" Pak Egy menimpali dan disambut gelak tawa mereka.

"Non Citra coba sun saya dong, boleh kan ?" pinta Pak Romli 
memajukan wajahnya

Aku tahu itu bukan permintaan tapi keharusan, maka kuberikan 
satu kecupan pada wajahnya yang tidak tampan itu.

"Ahh...non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma 
ngecup aja sih, gini dong harusnya" Kata Pak Egy seraya 
menarik wajahku dan melumat bibirku.

Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas 
menciumiku ditambah lagi tangannya sudah mulai meremas-remas 
payudaraku dari luar. Lidahnya masuk bertemu lidahku, saling 
menjilat dan berpilin, bara birahi yang sempat padam kini 
mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada sebelumnya. 
Aku makin berani dan memeluk Pak Egy, rambutnya kuremas 
sehingga topi satpamnya terjatuh. Sementara dibawah sana 
kurasakan sebuah tangan yang kasar meraba pahaku. Aku membuka 
mata dan melihatnya, disana Pak Romli mulai menyingkap rokku 
dan merabai pahaku.

Pak Egy melepas ciumannya dan beralih ke sasaran berikutnya, 
dadaku. Kaos ketatku disingkapnya sehingga terlihatlah buah 
dadaku yang masih terbungkus BH pink, itupun juga langsung 
diturunkan.

"Wow teteknya montok banget non, putih lagi" komentarnya 
sambil meremas payudara kananku yang pas di tangannya.

Pak Romli juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan 
gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar 
menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus 
dipencet-pencet dan dipelintir Pak Egy sambil mencupangi leher 
jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak 
Romli yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia 
menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku 
sering merintih kalau gigitannya keras. Namun perpaduan antara 
kasar dan lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas.

Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga angin malam 
menerpa kulit pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan 
jelas. Pak Romli menyelipkan tangannya ke balik celana dalamku 
sehingga celana dalamku kelihatan menggembung. Tangan Pak Egy 
yang lainnya mengelusi belakang pahaku hingga pantatku. 
Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan 
mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Aku merasakan vaginaku 
semakin basah saja karena gesekan-gesekan dari jari Pak Romli, 
bahkan suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua 
jarinya menemukan lalu mencubit pelan biji klitorisku. 
Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Pak Romli 
meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah 
kapan dia keluarkan.

"Waw...keras banget, mana diamaternya lebar lagi" kataku dalam 
hati "bisa mati orgasme nih saya"

Aku mengocoknya perlahan sesuai perintahnya, semakin kukocok 
benda itu makin membengkak saja.

Pak Romli menarik tangannya keluar dari celana dalamku, 
jari-jarinya basah oleh cairan vaginaku yang langsung 
dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh 
berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada 
mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga 
tubuhku.

"Asyik nih, malam ini kita bisa ngerasain pantat si non yang 
putih mulus ini" celoteh Pak Romli sambil meremasi bongkahan 
pantatku yang sekal.

Aku menoleh ke belakang melihat dia mulai menurunkan celana 
dalamku, disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa 
meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah 
telanjang menungging dengan celana dalamku masih menggantung 
di kaki kanan.

"Pak masukin sekarang dong" pintaku yang sudah tidak sabar 
marasakan batang-batang besar itu menjejali vaginaku.

"Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama vagina 
non, wangi sih !" kata Pak Romli yang sedang menjilati 
vaginaku yang terawat baik.

ak Usep mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah becek 
oleh lendirku dan ludahnya, aku masih merasa nyeri karena 
penisnya yang tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang 
senggamaku. Aku merintih kesakitan merasakan penis itu melesak 
hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu beradaptasi, 
dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang 
semakin lama semakin tinggi. Pak Egy sejak posisiku 
ditunggingkan masih betah berjongkok diantara tembok dan 
tubuhku sambil mengenyot dan meremas payudaraku yang 
tergantung persis anak sapi yang sedang menyusu dari induknya. 
Pak Romli terus menggenjotku dari belakang sambil sesekali 
tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bercak merah di 
kulitnya yang putih. Genjotannya semakin mambawaku ke puncak 
birahi hingga akupun tak dapat menahan erangan panjang yang 
bersamaan dengan mengejangnya tubuhku.

Tak sampai lima menit dia pun mulai menyusul, penisnya yang 
terasa makin besar dan berdenyut-denyut menggesek makin cepat 
pada vaginaku yang sudah licin oleh cairan orgasme.

"Ooohh... oohh... di dalam yah non... sudah mau nih" bujuknya 
dengan terus mendesah "Ahh... iyahh... di dalam aja... ahh" 
jawabku terengah-engah di tengah sisa-sisa orgasme panjang 
barusan.

Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan genjotannya 
dengan penis menancap hingga pangkalnya pada vaginaku, 
tangannya meremas erat-erat pinggulku. Terasa olehku cairan 
hangat itu mengalir memenuhi rahimku, dia baru melepaskannya 
setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin sudah ambruk 
kalau saja mereka tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga 
dan nafasku yang tercerai-berai. Setelah mereka melepaskan 
pegangannya, aku langsung bersandar pada tembok dan merosot 
hingga terduduk di lantai. Kuseka dahiku yang berkeringat dan 
menghimpun kembali tenaga dan nafasku yang tercerai- berai, 
kedua pahaku mengangkang dan vaginaku belepotan cairan putih 
seperti susu kental manis.

"Hehehe...liat nih, air sperma saya ada di dalam vagina wanita 
kamu" kata Pak Romli pada Dimas sambil membentangkan bibir 
vaginaku dengan jarinya, seolah ingin memamerkan cairan 
spermanya pada Dimas yang mereka kira pacarku.

Opps...omong-omong tentang Dimas, aku hampir saja melupakannya 
karena terlalu sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak 
tadi dia menikmati liveshow ini di sudut ruangan sambil 
mengocok-ngocok penisnya sendiri. Kasihan juga dia pikirku 
cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar buaya sih, 
begitu pikirku. Sekarang, Pak Romli menarik rambutku dan 
menyuruhku berlutut dan membersihkan penisnya, Pak Egy yang 
sudah membuka celananya juga berdiri di sebelahku menyuruhku 
mengocok penisnya.

Hhmmm...nikmat sekali rasanya menjilati penisnya yang 
berlumuran cairan kewanitaanku yang bercampur dengan sperma 
itu, kusapukan lidahku ke seluruh permukaannya hingga bersih 
mengkilap, setelah itu juga kuemut-emut daerah helmnya sambil 
tetap mengocok milik Pak Egy dengan tanganku. Aku melirik ke 
atas melihat reaksinya yang menggeram nikmat waktu kugelikitik 
lubang kencingnya dengan lidahku.

"Hei, sudah dong saya juga mau disepongin sama si non ini" 
potong Pak Egy ketika aku masih asyik memain-mainkan penis Pak 
Romli.

Pak Egy meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang 
langsung dijejali ke mulutku. Miliknya memang tidak sebesar 
Pak Romli, tapi aku suka dengan bentuknya lebih berurat dan 
lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang mungil karena 
tidak setebal Pak Romli, tapi tetap saja tidak bisa masuk 
seluruhnya ke mulut karena cukup panjang. Aku mengeluarkan 
segala teknik menyepongku mulai dari mengulumnya hingga 
mengisap kuat-kuat sampai orangnya bergetar hebat dan menekan 
kepalaku lebih dalam lagi. Waktu sedang enak-enak menyepong, 
tiba- tiba Dimas mengerang, memancingku menggerakkan mata 
padanya yang sedang orgasme swalayan, spermanya muncrat 
berceceran di lantai. Pasti dia sudah horny banget melihat 
adegan-adegan panasku.

Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Egy mengangkat 
tubuhku hingga berdiri, lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok 
dengan tubuhnya, kaki kananku diangkat sampai ke pinggangnya. 
Dari bawah aku merasakan penisnya melesak ke dalamku, maka 
mulailah dia mengaduk-aduk vaginaku dalam posisi berdiri. 
Berulang-ulang benda itu keluar-masuk pada vaginaku, yang 
paling kusuka adalah saat-saat ketika hentakan tubuh kami 
berlawanan arah, sehingga penisnya menghujam vaginaku lebih 
dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, kalau sudah begitu 
wuihh... seperti terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, aku 
hanya bisa mengekspresikannya dengan menjerit sejadi-jadinya 
dan mempererat pelukanku, untung gedung ini sudah kosong, 
kalau tidak bisa berabe nih. Sementara mulutnya terus melumat 
leher, mulut, dan telingaku, tanganya juga menjelajahi 
payudara, pantat, dan pahaku. Gelombang orgasme kini mulai 
melandaku lagi, terasa sekali darahku bergolak, akupun kembali 
menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia sedang melumat 
bibirku sehingga yang keluar dari mulutku hanya erangan- 
erangan tertahan, air ludah belepotan di sekitar mulut kami. 
Di sudut lain aku melihat Pak Romli sedang beristirahat sambil 
merokok dan mengobrol dengan Dimas.

Pak Egy demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika 
aku orgasmepun dia bukannya berhenti atau paling tidak 
memberiku istirahat tapi malah makin kencang. Kakiku yang satu 
diangkatnya sehingga aku tidak lagi berpijak di tanah disangga 
kedua tangan kekar itu. Tusukan-tusukannya terasa makin dalam 
saja membuat tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum 
aku dibuatnya karena dia masih mampu menggenjotku selama 
hampir setengah jam bahkan dengan intensitas genjotan yang 
stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda akan klimaks. Sesaat 
kemudian dia menghentikan genjotannya, dengan penis tetap 
menancap di vaginaku, dia bawa tubuhku yang masih digendongnya 
ke arah kloset. Disana barulah dia turunkan aku, lalu dia 
sendiri duduk di atas tutup kloset.

"Huh...capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong" 
perintahnya

Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti 
ini aku dapat lebih mendominasi permainan dengan 
goyangan-goyangan mautku. Tanpa disuruh lagi aku menurunkan 
pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah licin itu dan 
kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku 
terlebih dahulu melepaskan baju dan bra-ku yang masih 
menggantung supaya lebih lega, soalnya badanku sudah panas dan 
bemandikan keringat, yang masih tersisa di tubuhku hanya rokku 
yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang sepatu hak 
di kakiku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan 
gerakan naik- turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk 
sehingga Pak Egy mengerang karena penisnya terasa diplintir. 
Kedua tangannya meremasi payudaraku dari belakang, mulutnya 
juga aktif mencupangi pundak dan leherku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak 
rambutku dan mendongakkan wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak 
Romli mendekat dan langsung melumat bibirku. Dimas yang sudah 
tidah bercelana juga mendekatiku, sepertinya dia sudah 
mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan 
menggenggamkannya pada batang penisnya.

"Mmpphh... mmmhh !" desahku ditengah keroyokan ketiga orang 
itu. Toilet yang sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara 
terasa makin panas dan pengap.

"Ayo dong Citra... emut, sepongan kamu kan mantep banget"

Dimas menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut 
dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada 
benda itu, lidahku terus menjelajah ke kepala penisnya dimana 
masih tersisa sedikit cairan itu, kupakai ujung lidah untuk 
menyeruput cairan yang tertinggal di lubang kencingnya. Ini 
tentu saja membuat Dimas blingsatan sambil meremas-remas 
rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan 
Pak Egy dan mengocok penisnya Pak Romli, sibuk sekali aku 
dibuatnya.

Sesaat kemudian penisnya makin membesar dan berdenyuk-denyut, 
lalu dia menepuk punggungku dan menyuruhku turun dari 
pangkuannya. Benar juga dugaanku, ternyata dia ingin 
melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan posisi berlutut 
aku memainkan lidahku pada penisnya, dia mulai merem-melek dan 
menggumam tak jelas. Seseorang menarik pinggangku dari 
belakang membuat posisiku merangkak, aku tidak tahu siapa 
karena kepalaku dipegangi Pak Egy sehingga tidak bisa menengok 
belakang. Orang itu mendorongkan penisnya ke vaginaku dan 
mulai menggoyangnya perlahan. Kalau dirasakan dari ukurannya 
sih sepertinya si Dimas karena yang ini ukurannya pas dan 
tidak menyesakkan seperti milik Pak Romli. Ketika sedang 
enak-enaknya menikmati genjotan Dimas penis di mulutku mulai 
bergetar

"Aahhkk... saya mau keluar... non"

Pak Egy kelabakan sambil menjambaki rambutku dan 
creett...creett, beberapa kali semprotan menerpa menerpa 
langit-langit mulutku, sebagian masuk ke tenggorokan, sebagian 
lainnya meleleh di pinggir bibirku karena banyaknya sehingga 
aku tak sanggup menampungnya lagi.

Aku terus menghisapnya kuat-kuat membuatnya berkelejotan dan 
mendesah tak karuan, sesudah semprotannya berhenti aku 
melepaskannya dan menjilati cairan yang masih tersisa di 
batangnya. Dengan klimaksnya Pak Egy, aku bisa lebih 
berkonsentrasi pada serangan Dimas yang semakin mengganas. 
Tangannya merayap ke bawah menggerayangi payudaraku. Dimas 
sangat pandai mengkombinasikan serangan halus dan keras, 
sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme 
sudah diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Dimas 
menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai 
akhirnya dia meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan 
segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan 
juga. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di 
dalamku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan 
kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di 
daerah selangakanganku.

Aku langsung terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah 
peluh, untung lantainya kering sehingga tidak begitu jorok 
untuk berbaring di sana. Vaginaku rasanya panas sekali setelah 
bergesekan selama itu, dengan 3 macam penis lagi. Lututku juga 
terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. Setelah 
merasa cukup tenaga, aku berusaha bangkit dibantu Dimas. 
Dengan langkah gontai aku menuju wastafel untuk membasuh 
wajahku, lalu kuambil sisir dari tasku untuk membetulkan 
rambutku yang sudah kusut. Aku memunguti pakaianku yang 
berserakan dan memakainya kembali. Kami bersiap meninggalkan 
tempat itu.

"Lain kali kalau melakukan hubungan badan hati-hati, kalau 
ketangkap kan harus bagi-bagi" begitu kata Pak Egy sebagai 
salam perpisahan disertai tepukan pada pantatku.

"Citra... Citra... sori dong, kamu marah ya !" kata Dimas yang 
mengikutiku dari belakang dalam perjalananku menuju tempat 
parkir.

Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika 
menangkap lenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus. 
Setelah membuka pintu mobil barulah aku membalikkan badanku 
dan memberi sebuah kecupan di pipinya seraya berkata

"Saya nggak marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba 
yang lebih gila yah, see you, good night"

Dimas hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu 
menyaksikan mobilku yang makin menjauh darinya.

TAMAT 

 

Cerita seks erotis dewasa seperti diatas bisa anda dapatkan rutin dan akan bisa dikirim terus ke mail box atau email anda jika anda bergabung menjadi member atau anggota milis http://groups.yahoo.com/group/cerita_seks_erotis. Makanya JOIN GRATIS sekarang juga !!


Copyleft 2006 by cerita_seks_erotis@yahoogroups.com 

Powered by Klikabadi
Isi dan desain Web oleh : cerita_seks_erotis@yahoogroups.com