Make your own free website on Tripod.com

 Gairah Asmara  - Kumpulan kisah seks & asmara khusus dewasa -    gairah asmara

Warning

Situs ini merupakan situs yang berisikan kumpulan cerita khusus DEWASA, hanya anda yang berusia minimal 18 tahun yang boleh mengunjunginya. Kami tidak bertanggung jawab jika terjadi "efek samping" kepada para pembaca

 

Link Favorit

- Kamasutra
- Gadis seksi
- Goyang erotis
- Foto hot artis
- Cewek bugi
l

 

.

 

Gairah Asmara Web mrpk situs khusus dewasa yg berisi koleksi cerita seks, kisah erotis, kencan kilat, pengalaman seks, keperawanan, keperjakaan, cerita anak smu, cerita saru, asmaragama, kamasutra, tips seks, seni bercinta, kisah tante,  tante girang, kisah gigolo,  telanjang, bugil, foto seksi, gadis, gadis seksi, cewek bugil,  artis bugil,  abg telanjang,  ciblek,  anak smu, model foto, artis erotis, wanita cantik, ayam kampus, wts, cewek panggilan,  gigolo, kencan,  pesta seks, maniak seks, vcd bf,  film biru, blue film, model telanjang, playboy indonesia, brondong, cerita waria, senggama, 17 tahun, pembantu genit seksi, erotisme,  perkosaan,  gadis perawan, virgin, payudara,  toket,  memek,  paha, buah dada,  payudara,  puting susu,  cerita panas, blogkep, vagina,  penis, klitoris,  bugil,  ML,  Abg smu,  erotis,  orgasme. Khusus di peruntukkan untuk anda yg berumur 18th keatas atau yg sudah menikah.

cewek seksi erotis

Judul : Ibu Maya yang Baik Hati 
Oleh : Tak Tahulah
Email : entah@siapajuga.co.id
Foto : by Model ( Karen Inchinose)
Keterangan : Model atau foto tidak ada hubungannya dengan cerita yang ada. Hanya ilustrasi atau gambar pemanis belaka. Jika anda punya kisah seks erotis, kisah ml atau khayalan erotis yg ingin anda ceritakan silahkan kirim ke
cerita_seks_erotis@yahoogroups.com 

Daftar isi Gairah Asmara, Klik Disini !!


Judul : Ibu Maya yang Baik Hati 

Setelah tamat dari SMU, aku mencoba merantau ke Jakarta. Aku 
berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang 
tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan 
memiliki dua orang adik perempuan, yang nota bene masih 
bersekolah. 

Aku ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke 
Jakarta, aku selalu terbayang akan suatu kegagalan. Apa 
jadinya aku yang anak desa ini hanya berbekal Ijazah SMU mau 
mengadu nasib di kota buas seperti Jakarta. Selain berbekal 
Ijazah yang nyaris tiada artinya itu, aku memiliki 
keterampilan hanya sebagai supir angkot. Aku bisa menyetir 
mobil, karena aku di kampung, setelah pulang sekolah selalu 
diajak paman untuk narik angkot. Aku menjadi keneknya, paman 
supirnya. Tiga tahun pengalaman menjadi awak angkot, cukup 
membekal aku dengan keterampilan setir mobil. Paman yang 
melatih aku menjadi supir yang handal, baik dan benar dalam 
menjalankan kendaraan di jalan raya. Aku selalu memegang teguh 
pesan paman, bahwa : mengendarai mobil di jalan harus dengan 
sopan santun dan berusaha sabar dan mengalah. Pesan ini tetap 
kupegang teguh. 

Di Jakarta aku numpang di rumah sepupu, yang kebetulan juga 
bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan Pulo Gadung. Kami 
menempati rumah petak sangat kecil dan sangat amat sederhana. 
Lebih sederhana dari rumah type RSS ( Rumah Susah Selonjor). 
Selain niatku untuk bekerja, aku juga berniat untuk 
melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Dua bulan lamanya aku 
menganggur di Jakrta. Lamar sana sini, jawabnya selalu klise, 
" tidak ada lowongan ". 

Pada suatu malam, yakni malam minggu, ketika aku sedang 
melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan 
pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta agar aku sudi 
menjadi supir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Keluarga itu 
adalah pemilik perusahaan dimana pak RT bekerja sebagai salah 
seorang staff di cabang perusahaan itu. Sepontan aku 
menyetujuinya. Esoknya kami berangkat kekawasan elite di 
Jakarta. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti 
istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Setelah kami 
dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu 
yang megah itu, tak lama kemudian muncul seorang wanita yang 
tampaknya muda. Kami memberi hormat pada wanita itu. Wanita 
itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, 
karena ketika dia datang, sepontan aku dan pak RT berdiri 
memberi salam " selamat pagi". Pak RT dipersilahkan kembali ke 
kantor oleh wanita itu, dan diruangan yang megah itu hanya ada 
aku dan dia si wanita itu. 

" Benar kamu mau jadi supir pribadiku ? " tanyanya ramah 
seraya melontarkan senyum manisnya. " Iya Nyonya, saya siap 
menjadi supir nyonya " Jawabku. " jangan panggil Nyonya, 
panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya " Sergahnya halus. Aku 
mengangguk setuju. " Kamu masih kuliah ?" " Tidak nyonya 
eh...Bu ?!" jawabku. " Saya baru tamat SMU, tapi saya 
berpengalaman menjadi supir sudah tiga ahun" sambungku. 

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku 
hingga aku jadi slah tingkah. Diperhatikannya aku dari atas 
samapi kebawah. " kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya 
sopan, kenapa mau jadi supir ?" tanyanya. " Saya butuh uang 
untuk kuliah Bu " jawabku. " Baik, saya setuju, kamu jadi 
supir saya, tapi harus ready setiap saat. gimana, okey ? " " 
Saya siap Bu." Jawabku. " Kamu setiap pagi harus sudah ready 
di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya 
Fitness, setelah itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana 
saya suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana 
siap ? " " Saya siap Bu" Jawabku. " Oh..ya, siapa namamu ? " 
Tanyanya sambil mengulurkan tangannya. Sepontan aku menyambut 
dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman. " Saya Leman 
Bu, panggil saja saya Leman " Jawabku. " Nama yang bagus ya ? 
tau artinya Leman ? " Tanyanya seperti bercanda. " Tidak Bu " 
Jawabku. " Leman itu artinya Lelaki Idaman " jawabnya sambil 
tersenyum dan menatap mataku. Aku tersenyum sambil tersipu. 
lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jika aku bakal 
mendapat majikan seramah dan se santai Ibu Maya. Aku mencoba 
juga untuk bergurau, kuberanita diri untuk bertanya pada 
beliau. " Maaf, Bu. jika nama Ibu itu Maya, apa artinya Bu ? " 
" O..ooo, itu, Maya artinya bayangan, bisa juga berarti 
khayalan, bisa juga sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata 
ada.Seperti halnya cita-citamu yang kamu anggap mustahil 
ternyata suatu saat bisa kamu raih, nah,,,khayalan kamu itu 
berupa sesuiatu yang bersifat maya, ngerti khan ? " Jawabnya 
serius. Aku hanya meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok 
mengerti, sok seperti orang pintar. 

Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak 
trlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya 
seperti gitar sepanyol. Ynag lebih, gila, pantatnya bahenol 
dan buah dadanya wah...wah...wah...puyeng aku melihatnya. 

Dirumah yang sebesar itu, hanya tinggal Ibu Maya, Suaminya, 
dan dua putrinya, yakni Mira sebagai anak kedua, dan Yanti si 
bungsu yang masih duduk di kelas III SMP, putriny yang pertama 
sekolah mode di Perancis. Pembantunya hanya satu, yakni Bi 
Irah, tapi seksinya juga luar biasa, janda pula ! 

Ibu Maya memberi gaji bulanan sangat besar sekali, dan jika 
difikir-fikir, mustahil sekali. Setelah satu tahu aku bekerja, 
sudah dua kali dia menaikkan agjiku, Katanya dia puas atas 
disiplin kerjaku. Gaji pertama saja, lebih dari cukup untuk 
membayar uang kuliahku. Aku mengambil kuliah di petang hari 
hingga malam hari disebuah Universitas Swasta. Untuk satu 
bulan gaji saja, aku bisa untuk membayar biaya kuliah empat 
semster, edan tenan....sekaligus enak...tenan....!!! dasar 
rezeki, tak akan kemana larinya. 

Masuk tahun kedua aku bekerja, keakraban dengan Ibu Maya 
semakin terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan 
dulu. Yang konyol, dia selalu duduk di depan, disebelahku, 
hingga terkadang aku jadi kagok menyetir, eh...lama lama 
biasa. 

Disuatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta 
diatar keluar kota. Seperti biasa dia pindah duduk ke depan. 
Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika tengah 
berjalan kendaraan kami di jalan tol jagorawi, tiba-tiba Ibu 
maya menyusuh nemepi sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW 
itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan ada kesalahan 
yang aku perbuat. 

" Man,?, kamu sudah punya pacar ? " Tanyanya. " Belum Bu " 
Jawabku singkat. " Sama sekali belum pernah pacaran ?" " Belum 
BU, eh...kalau pacar cinta monyet sih pernah Bu, dulu di 
kampung sewaktu SMP" " Berapa kali kamu pacaran Man ? sering 
atau cuma iseng ?" tanyanya lagi. Aku terdiam sejenak, kubuang 
jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku masih memegang setir 
mobil. Kutarik nafas dalam-dalam. " Saya belum pernah pacaran 
serius Bu, cuma sebatas cintanya anak yang sedang pancaroba" 
Jawabku menyusul. " Bagus...bagus...kalau begitu, kamu anak 
yang baik dan jujur " ujarnya puas sambil menepuk nepuk 
bahuku. Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada 
aneh ? terlalu pribadi lagi ? apakah aku mau dijodohkan dengan 
salah seorang putrinya ? ach....enggak mungkin rasanya, 
mustahil, mana mungkin dia mau punya menantu anak kampung 
seprti aku ini ?! 

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kepuncak, bahkan 
sampai jalan-jalan sekedar putar-putar saja di kota Sukabumi. 
Aku heran bin heran, Bu Maya kok jalan-jalan hanya putar-putar 
kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya 
hanya memakai pakaian Fitness berupa celana training dan kaos 
olah raga. Setelah sempat makan di rumah makan kecil di 
puncak, hari sudah mulai gelap dan kami kembali meneruskan 
perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan di jalan yang gelap 
gulita, Bu Maya minta untu berbelok ke suatu tempat. Aku 
menurut saja apa perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang 
kutahu hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap 
gulita. Ditengah kebun itu bu Maya minta kaku berhenti dan 
mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan tingkah Bu 
Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lengaku. " Coba 
rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?" Pintanya, aku menurut 
saja, karena masih belum mengerti. Astaga....setelah aku 
merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan keadaan kepala 
menghadap keatas, kaki menjulur keluar pintu, Bu Maya menarik 
kaosnya ketas. Wow...samar-samar kulihat buah dadanya yang 
besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu 
dia berkata " Cium Man Cium...isaplah, mainkan sayang ...?" 
Pintanya. Baru aku mengerti, Bu Maya mengajak aku ketempat ini 
sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki normal, 
karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. 
Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dna seksi 
seperti Bu Maya. 

Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya 
dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya ter engah-engah tak 
karuan, menandakan nafsu biarahinya sedang naik. Aku masih 
mengisap dan menjilati teteknya. Lalu bu Maya minta agar aku 
bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga 
kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya tampak bugil. 
Samar-samar oleh sinar bulan di kegelapan itu. " Jilat Man 
jilatlah, aku nafsu sekali, jilat sayang " Pinta Bu Maya agar 
aku menjilati memeknya. Oh....memek itu besar sekali, 
menjendol seperti kura-kura. tampaknya dia sedang birahi 
sekali, seperti puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, 
seperti sudah terhipnotis. Memek Bu Maya wangi sekali, mungkin 
sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya dan 
memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk waktu yang 
lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri. Dia tadi 
ke tolilet membawa serta tas pribadinya. Dan disana pula dia 
mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang 
kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya aku keluar 
mobil dan disusul olehnya. Bu Maya membuka bagasi mobil dan 
mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas 
rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan 
merentangnya kakinya. " Ayo Man, lakukan, hanya ada kita 
berdua disini, jangan sia-siakan kesempatan ini Man, aku 
sayang kamu Man " katanya setengah berbisik, Aku tak menjawab, 
aku hanya melakukan perintahnya, dan sedikit bicara banyak 
kerja. Ku buka semua pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya. 
Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan 
kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu 
dalam suasana malam yang remang-remang oleh sinar gemintang di 
langit. Aku menggenjot memek Bu Maya sekuat mungkin. " jangan 
keluar dulua ya ? saya belum puas " Pintanya mesra. Aku diam 
saja, aku masih melakukan adegan mengocok dengan gerakan penis 
keluar masuk lubang memek Bu Maya. Nikmat sekali memek ini, 
pikirku. Bu Maya pindah posisi , dia diatas, dan bukan main 
permainannya, goyangnyanya. 

" Remas tetekku Man, remaslah....yang kencang ya ?" Pintanya. 
Aku meremasnya. " Cium bibirku Man..cium ? Aku mencium bibir 
indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, 
sesekali dia mengerang kenikmatan. " Sekarang isap tetekku, 
teruskan...terus.....Oh....Ohhhh.....Man...Leman...Ohhh...aku 
keluar Man....aku kalah" Dia mencubiti pinggulku, sesekali 
tawanya genit. " kamu curang....aku kalah" ujarnya. " Sekarang 
gilirang kamu Man....keluarkan sebanyak mungkin ya? " 
pintanya. " Saya sudah keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap 
bertahan, takut Ibu marah nanti " Jawabku. " Oh 
Ya?...gila..kuat amat kamu ?!" balas Bu Maya sambul mencubit 
pipiku. 

" Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap ?" " Aku suka 
alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah sekali. Kita akan 
lebih sering mencari tempat seperti alam terbuka. Minggu depan 
kita naik kapal pesiarku, kita main diatas kapal pesiar di 
tengah ombak bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang 
sepi, ah... terserah kemana kamu mau ya Man ?" 

Selesai main, setelah kami membersihkan alat vital hanya 
dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jiregen di 
bagasi mobil, kami istirahat. Bu Maya yang sekarang tidur di 
pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah 
sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan 
oleh kepala Bu maya yang menyentuh batang kejantananku. Tak 
banyak komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap 
sudah bugil. Disuruhnya aku tidur dengan kaki merentang, lalu 
Bu Maya membuka celana trainingnya yang tanpa celana dalam 
itu. Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya seperti 
gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan 
Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin 
membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi 
besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku. 
Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu 
di penisku. Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, 
lalu di goyang-goyang seperti gerakan mengocok. " Giaman Man ? 
enah anggak ? " " Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu" 
jawabku.. " Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, 
aku mau kok ?!" . Bu Maya masih giat bekerja giat, dia 
berusaha untuk memuaskan aku. Tak lama kemudian, Bu Maya naik 
keposisi atas dan seperti menduduki penisku, tapi lobang 
memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus...hingga aku 
merasakan nikat yang luar biasa. Tiba -tiba Bu Maya terdiam, 
berhenti bekerja, lalu berjata :" Rasakan ya Man ? pasti kamu 
bakal ketagihan " Aku membisu saja. dan ternya Ohh....memek Bu 
Maya bisa melakukan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan 
meng-urut-urut batang kontolku dari bagian kepala hingga ke 
bagian batang bawah, Oh....nikmat sekali, ini yang namanya 
empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya dalam bidang oleh 
seksual. " Enak syang ?" tanyanya. Belum sempat aku menjawab, 
yah....aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang 
kemaluan Bu Maya. 

" Itu yang namanya empot-empot Man, itulah gunanya senam sex, 
berarti aku sukses l;atihan senam sex selama ini " Katanya 
bangga. " Sekarang kamu puasin aku ya ? " Kata Bu Maya seraya 
mengambil posisi nungging. Ku tancapkan lagi kontolku yang 
masih ereksi kedalam memek bu Maya, Ku genjot terus. " Yang 
dalam man...yang dalam ya..teruskan sayang...? oh....enak 
sekali penismu.....oh....terus sayang ?!" Pinta Bu Maya. Aku 
masih memuaskan Bu Maya, aku tak mau kalah, kujilati pula 
lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu 
Maya orgasme setelah aku menjlati seluruh tubuhnya. " kamu 
pintar sekali Man ? belajar dimana ? " " Tidak bu, refleks 
saja" Jawabku. 

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya masih sempat 
minta satu adegan lagi. Tapi kali ini hanya sedikit melorotkan 
celana trainingnya saja. demikian pula aku, hanya membuka 
bagian penis saja. Bu Maya minta aku melakukanya di dalam 
mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan susah payang kami 
melakukannya dan akhirnya toh juga mengambil posisinya berdiri 
dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil meng-angkat 
sedikit kaki kanannya. 

Sejak saat malam pertama kami itu, aku dan Bu Maya sering 
bepergian keluar kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke 
semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari 
tempat-tempat yang aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku 
sebenarnya menjadi gigolonya Bu Maya. Dan beliaupun semakin 
sayang padaku, uang mengalir terus ke kocekku, tanpa pernah 
aku meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah 
hingga tamat, asal aku tetap selalu besama Bu Maya yang cantik 
itu. 

TAMAT 

 

Cerita seks erotis dewasa seperti diatas bisa anda dapatkan rutin dan akan bisa dikirim terus ke mail box atau email anda jika anda bergabung menjadi member milis http://groups.yahoo.com/group/cerita_seks_erotis

Makanya JOIN GRATIS sekarang juga !!


Copyleft 2006 by cerita_seks_erotis@yahoogroups.com 

Powered by Klikabadi
Isi dan desain Web : cerita_seks_erotis@yahoogroups.com